Thursday, January 28, 2010

Empati, bukan sekedar simpati



Mendung di siang hari kemarin. Tehan berdiri di tepi jalan menunggu datangnya angkot yang tepat. Tidak jauh, ada dua orang laki-laki berjalan saling berpegangan. Ternyata dua orang buta atau tuna netra. Tampaknya mereka berdua ingin menyeberang, orang-orang yang berdiri di hadapan mereka hanya memandang. Ketika tehan akan mendekat, tanpa diduga seorang pemulung telah mendekati mereka. Sepertinya ia bertanya pada kedua orang tersebut, lalu sang pemulung pergi. Tidak lama kemudian ia kembali, ternyata ia meletakkan karungnya terlebih dahulu. Ia pun memegang tangan kedua orang tuna netra itu dan membantu mereka menyeberangi jalan. Sedangkan orang-orang di sekitar masih setia memandang mereka.

Di siang hari lain, terik matahari yang menyengat cuma sesaat terasa, karena tehan terlindung di dalam angkot. Seperti angkot umumnya, tidak lepas dari sifat mengetem. Setelah berhenti dari suatu tempat, tiba-tiba kembali berhenti. Tehan dan penumpang lain sudah hampir terlepas kesabarannya. Tidak disangka, supir berhenti untuk menolong beberapa orang yang akan menyeberang dari seberang jalan. Dan ternyata mereka adalah para tuna netra.

Kejadian di waktu yang sama (selalu di siang hari), supir angkot tiba-tiba berhenti karena ingin menolong seorang anak perempuan yang akan menyeberang. Setelah selesai menolong, supir kembali. Temannya berkata bahwa ia mengira ada sesuatu yang penting ketika supir tersebut tiba-tiba berhenti. Supir berkata kepada ke temannya, kalau ia jadi ingat anaknya. Terpikir olehnya ia pun ingin ada orang yang menolong anaknya menyeberangi jalan saat akan pergi atau pulang dari sekolah.

Yang mereka lakukan bukan sekedar ikut merasakan perasaan orang lain. Tetapi juga memahami apa yang dihadapi orang lain. Yang dilakukan mereka sederhana, membantu menyeberangi jalan. Namun berharga, tersimpan manis di lubuk hati orang-orang yang dibantu.

9 comments:

  1. ahhh so tranquil when i read this post :)
    aku ingin jadi seperti supir atau pemulung itu

    ReplyDelete
  2. Terima kasih mas :). Saya lupa bicara satu hal yang penting... peka. Kepekaan kita terhadap lingkungan. Smg kita bs berhati besar seperti mereka.

    ReplyDelete
  3. eh kebaikan yang kayak gitu biasanya berantai loh, orang yang pernah ngrasain ditolong orang laen biasanya jadi pengen nolong orang yang laennya juga. seneng denger masih banyak orang-orang baek. mari kita sebarkan kebaikan-kebaikan itu

    ReplyDelete
  4. @ perez; kayak film pay it forward ya?

    nice post ne

    ReplyDelete
  5. @Perez : Betul sekali... Seperti kt bang trans kyk di film pay it forward. Bantulah orang lain untuk membalas kebaikan yang diterima. Hayuuu....

    @Trans : Ssst... (kt terakhir hehe) Makasih bang trans!

    ReplyDelete
  6. Salam kenal, Tehan!

    Pengalaman yang berharga.
    Gak ngira lho masih ada orang kayak sopir itu di Indonesia.

    ReplyDelete
  7. salut untuk pak sopir....salam kenal bang

    ReplyDelete
  8. @Benny : Salam kenal juga! Iya. Setiap orang punya ceritanya sendiri. Keunikan manusia. Makasih atas kunjungannya :)
    @Richo : Yup, kecil tapi mengena. Anyway, Bang sopir atau tehan? ^^. Makasih sudah berkunjung :)

    ReplyDelete
  9. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    ReplyDelete